Menentukan Target Pribadi Seperti 10,4 Juta untuk Menjaga Kendali dan Kenikmatan Bermain Game Hiburan terdengar seperti angka yang aneh bagi sebagian orang, tetapi bagi saya itu justru terasa manusiawi. Angka itu lahir dari kebiasaan sederhana: saya suka memberi batas yang jelas agar bermain tetap menyenangkan, tidak mengganggu kebutuhan lain, dan tidak berubah menjadi sumber penyesalan. Target ini bukan soal pamer, bukan pula ambisi kosong; ia adalah “pagar” yang membantu saya tetap sadar kapan harus berhenti, kapan harus istirahat, dan kapan harus kembali menikmati permainan dengan kepala dingin.
Kenapa Angka Spesifik Membantu Mengendalikan Kebiasaan Bermain
Suatu malam, setelah sesi bermain panjang, saya menyadari waktu terasa menguap begitu saja. Saya tidak merasa melakukan hal buruk, tetapi saya juga tidak bisa menjelaskan apa yang saya dapat selain rasa lelah. Dari situ saya belajar: batas yang kabur membuat keputusan jadi emosional. Ketika tidak ada angka yang tegas, kita cenderung menambah “sebentar lagi” berkali-kali sampai energi dan fokus habis.
Angka spesifik seperti 10,4 juta bekerja seperti patokan di dashboard. Ia memecah ilusi “tak terasa” menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan dihitung. Uniknya, angka yang tidak bulat justru lebih mudah diingat karena terasa personal, seperti tanda tangan. Bagi sebagian orang, angka itu bisa berupa 2 jam per hari, 150 ribu per minggu, atau 30 pertandingan per bulan. Intinya bukan besarnya, melainkan kejelasan dan konsistensi.
Menyusun Target 10,4 Juta yang Realistis: Dari Catatan Kecil ke Komitmen
Target saya tidak muncul tiba-tiba. Awalnya saya mencatat pengeluaran hiburan selama sebulan, termasuk pembelian gim, paket tambahan kosmetik, dan biaya perangkat pendukung seperti stik atau headset. Saya juga menandai momen ketika pengeluaran itu terasa “wajar” dan kapan mulai terasa mengganggu. Dari catatan itulah saya menemukan angka yang masih nyaman bagi arus kas pribadi, lalu saya turunkan menjadi target tahunan yang lebih stabil: 10,4 juta.
Agar realistis, saya membaginya menjadi jatah bulanan yang tidak mengganggu kebutuhan pokok. Saya memperlakukan target ini seperti pos hiburan, sama seperti pos transportasi atau makan di luar. Dengan cara ini, keputusan belanja dalam gim atau membeli gim baru tidak lagi impulsif. Saya tinggal bertanya, “Masih ada ruang di jatah bulan ini?” Jika tidak, saya menunggu. Menunggu ternyata bukan penderitaan; sering kali justru membuat saya lebih selektif dan puas.
Target Bukan Sekadar Uang: Mengatur Waktu, Energi, dan Fokus
Di titik tertentu saya sadar, kendali bukan hanya soal pengeluaran. Ada hari ketika saya tidak mengeluarkan apa-apa, tetapi waktu bermain meluber dan membuat pekerjaan esoknya berantakan. Maka saya menambahkan target non-finansial: batas jam bermain dan batas sesi. Saya mulai menggunakan pengingat sederhana—bukan untuk mematikan kesenangan, melainkan untuk menjaga ritme hidup tetap sehat.
Saya juga menilai energi setelah bermain. Jika selesai bermain saya merasa segar dan tetap bisa membaca atau beres-beres, berarti durasinya pas. Jika selesai bermain saya jadi mudah kesal, sulit tidur, atau menunda tanggung jawab, itu tanda bahwa batas perlu dikencangkan. Prinsipnya sederhana: hiburan yang baik meninggalkan rasa pulih, bukan rasa hampa. Target membantu saya membaca sinyal tubuh dan emosi dengan lebih jernih.
Memilih Game yang Mendukung Kenikmatan Jangka Panjang
Game yang saya pilih sangat memengaruhi apakah target terasa ringan atau berat. Saya pernah tenggelam di gim kompetitif yang membuat saya ingin “balas” kekalahan terus-menerus. Saat itu, batas waktu terasa seperti hukuman. Lalu saya beralih menyeimbangkan dengan gim naratif dan santai seperti Stardew Valley atau game petualangan yang memberi jeda alami. Hasilnya, saya lebih mudah berhenti karena ada titik akhir yang jelas: satu misi selesai, satu hari di dalam gim selesai.
Untuk game yang lebih menantang seperti Elden Ring atau game strategi seperti Civilization, saya menerapkan aturan sesi: satu boss attempt atau satu putaran besar, lalu jeda. Saya tetap bisa menikmati progres, tetapi tidak terjebak dalam pola “sekali lagi”. Memilih game yang sesuai suasana hati juga penting. Ketika lelah, saya memilih game ringan; ketika fokus sedang tinggi, barulah saya memilih yang kompetitif. Target 10,4 juta jadi terasa sebagai sistem yang mendukung, bukan mengekang.
Teknik Praktis Menjaga Target: Jurnal, Batas Transaksi, dan “Ritual Berhenti”
Yang paling membantu saya adalah jurnal singkat. Bukan jurnal panjang, cukup tiga baris: apa yang dimainkan, berapa lama, dan bagaimana perasaan setelahnya. Dari situ terlihat pola: game tertentu membuat saya tenang, game tertentu membuat saya tegang. Saya juga membuat batas transaksi di dompet digital agar pembelian hiburan tidak melewati angka yang sudah saya tetapkan. Dengan pengaman ini, keputusan menjadi lebih rasional karena ada jeda untuk berpikir.
Saya menambahkan “ritual berhenti” supaya penutupan sesi terasa tuntas. Misalnya, saya selalu menutup permainan setelah menyelesaikan satu target kecil, lalu merapikan meja, minum air, dan mematikan layar selama beberapa menit. Ritual sederhana ini mengurangi dorongan untuk kembali membuka gim secara otomatis. Di momen seperti itu saya menyadari, yang saya cari bukan sekadar permainan, melainkan rasa nyaman. Dan rasa nyaman bisa didapat tanpa harus menambah sesi tanpa henti.
Evaluasi Bulanan: Saat Target Perlu Disesuaikan Tanpa Mengorbankan Kendali
Target yang baik tidak kaku, tetapi juga tidak mudah diubah karena emosi sesaat. Saya mengevaluasi setiap bulan: apakah jatah hiburan terasa terlalu ketat sampai menghilangkan kesenangan, atau terlalu longgar sampai membuat saya lengah. Misalnya, ketika ada rilis besar yang benar-benar saya tunggu, saya bisa menggeser anggaran dari bulan lain, bukan menambah total tahunan. Dengan begitu, 10,4 juta tetap menjadi pagar utama, sementara fleksibilitas terjadi di dalam pagar.
Saya juga mempertimbangkan fase hidup. Saat pekerjaan sedang padat, target waktu saya turunkan karena prioritas berubah. Saat liburan, saya beri ruang lebih banyak untuk bermain, tetapi tetap menjaga pola tidur dan aktivitas fisik. Evaluasi ini membuat saya merasa memegang kendali, bukan dikendalikan kebiasaan. Pada akhirnya, target pribadi bukan tentang menahan diri terus-menerus, melainkan tentang merancang pengalaman bermain yang tetap nikmat, aman, dan sejalan dengan kehidupan nyata.

