Menetapkan Target Bermain Sekitar 4,8 Juta untuk Menjaga Fokus dan Kenyamanan Saat Menikmati Game Hiburan adalah kebiasaan kecil yang pernah saya anggap remeh, sampai suatu malam saya menyadari betapa mudahnya “keterusan” saat sedang menikmati sesi permainan. Waktu itu, saya sedang memainkan Mobile Legends dan berpindah ke Genshin Impact untuk menuntaskan komisi harian, lalu tanpa terasa berlanjut ke beberapa gim kasual lain. Bukan karena saya tidak bisa berhenti, melainkan karena saya tidak punya batas yang jelas—padahal batas itu justru yang membuat pengalaman terasa ringan, tertata, dan tetap menyenangkan.
Sejak saat itu, saya mulai menetapkan target angka yang spesifik, yakni sekitar 4,8 juta dalam konteks anggaran hiburan dan kebutuhan terkait permainan selama periode tertentu. Angka ini bukan “angka sakral” yang cocok untuk semua orang, tetapi bagi saya ia terasa pas: cukup untuk memenuhi rasa penasaran, mendukung kenyamanan perangkat, dan tetap memberi ruang untuk kebutuhan lain. Yang paling penting, target ini membuat saya kembali memegang kendali atas ritme bermain, bukan sebaliknya.
Kenapa Angka 4,8 Juta Bisa Terasa Realistis dan Menenangkan
Dalam praktiknya, angka yang spesifik membantu otak berhenti bernegosiasi. Ketika target masih kabur, seperti “secukupnya” atau “nanti saja lihat”, keputusan jadi rentan dipengaruhi emosi sesaat: sedang seru, sedang penasaran, atau sedang ingin menutup sesi dengan “hasil yang lebih baik”. Dengan menetapkan sekitar 4,8 juta, saya punya patokan yang bisa dicek, dihitung, dan dievaluasi tanpa drama.
Angka ini juga memberi rasa aman karena bisa dibagi menjadi komponen yang jelas. Misalnya, sebagian untuk pembelian gim di Steam atau PlayStation Store, sebagian untuk langganan layanan, sebagian untuk item kosmetik yang memang saya incar, dan sisanya untuk kebutuhan pendukung seperti headset yang lebih nyaman. Saat semuanya punya porsi, saya tidak merasa bersalah ketika membeli sesuatu, karena itu sudah masuk rencana, bukan impuls.
Membuat Batas yang Sehat: Bedakan Anggaran, Waktu, dan Tujuan
Kesalahan saya dulu adalah menganggap batas hanya soal uang, padahal batas paling terasa justru soal waktu dan tujuan. Saya mulai membagi target menjadi tiga lapis: anggaran maksimal, durasi bermain per sesi, dan tujuan sesi. Contohnya, saya tetapkan sesi 60–90 menit untuk menyelesaikan misi harian di Honkai: Star Rail, lalu berhenti tanpa harus “mencari alasan” untuk lanjut.
Tujuan sesi juga penting agar bermain tidak berubah menjadi pelarian. Saat tujuan jelas—misalnya naik peringkat satu divisi di Valorant atau menyelesaikan satu bab di gim naratif—saya merasa puas ketika target tercapai. Kepuasan ini membuat saya lebih mudah menutup gim, karena saya menutupnya dengan “selesai”, bukan dengan “tanggung”.
Cara Mengalokasikan 4,8 Juta Tanpa Mengorbankan Kebutuhan Lain
Yang saya lakukan adalah memperlakukan target ini seperti pos hiburan yang berdiri sendiri, bukan pos yang “mengambil” dari kebutuhan pokok. Saya menulisnya di catatan keuangan bulanan, sama seriusnya dengan pos transportasi atau makan. Dengan begitu, saya tidak perlu menebak-nebak: apakah pengeluaran ini akan mengganggu tagihan, tabungan, atau rencana keluarga.
Untuk menjaga disiplin, saya membaginya ke dalam jatah per minggu atau per dua minggu. Ketika jatah periode itu habis, saya berhenti belanja terkait gim, meski masih tetap bisa bermain dengan apa yang sudah ada. Cara ini terasa lebih manusiawi dibanding menahan diri sepanjang bulan, karena ada ritme: ada waktu untuk menikmati, ada waktu untuk menunggu.
Ritual Sebelum Bermain: Kecil, Tapi Menjaga Fokus
Setelah punya target, saya menambahkan ritual sederhana sebelum memulai sesi. Saya pastikan kebutuhan dasar beres: minum, makan ringan, dan mengatur posisi duduk. Saya juga menutup notifikasi yang tidak penting agar tidak terpancing membuka hal lain. Ritual ini membuat bermain terasa seperti aktivitas yang dipilih, bukan kebiasaan otomatis yang terjadi begitu saja.
Saya juga selalu menentukan “tanda selesai” di awal. Misalnya, saya akan berhenti setelah tiga pertandingan di eFootball atau setelah menyelesaikan satu dungeon di Diablo. Ketika tanda selesai ditetapkan sejak awal, saya tidak perlu berdebat dengan diri sendiri di tengah sesi. Fokus saya jadi lebih utuh, dan pengalaman bermain terasa lebih berkualitas.
Menghindari Pemicu Impuls: Diskon, FOMO, dan Tekanan Sosial
Bagian tersulit bukan menetapkan angka, melainkan menjaga diri dari pemicu impuls. Diskon musiman, bundel item, atau event terbatas sering membuat kita merasa “kalau tidak sekarang, rugi”. Saya pernah membeli sesuatu hanya karena takut ketinggalan, lalu beberapa hari kemudian sadar bahwa saya tidak benar-benar membutuhkannya. Sejak itu, saya menerapkan jeda 24 jam untuk pembelian yang tidak direncanakan.
Tekanan sosial juga nyata, terutama ketika teman satu tim mengajak “sekalian” main lagi atau menyarankan beli sesuatu agar performa terasa lebih nyaman. Saya belajar menjawab dengan jujur dan ringan: saya sudah punya batas sesi dan batas anggaran. Anehnya, ketika kita tegas tapi tidak menggurui, orang lain cenderung menghormati. Hubungan tetap baik, dan kita tetap memegang kendali.
Evaluasi Tanpa Drama: Ukur Kenyamanan, Bukan Sekadar Hasil
Setiap akhir periode, saya mengecek apakah target 4,8 juta ini benar-benar membuat saya nyaman. Ukurannya bukan hanya berapa banyak gim yang saya beli atau seberapa tinggi peringkat saya, melainkan apakah saya tidur cukup, tetap produktif, dan tidak merasa cemas soal pengeluaran. Jika ternyata saya sering melewati batas, berarti yang perlu diperbaiki adalah sistemnya, bukan menyalahkan diri sendiri.
Kadang evaluasi membuat saya menyesuaikan alokasi: mengurangi pembelian impuls, menambah porsi untuk perangkat ergonomis, atau mengalihkan sebagian ke gim yang lebih “tahan lama” agar tidak mudah bosan. Dari situ saya belajar bahwa target bukan pagar yang mengekang, melainkan rambu yang membuat perjalanan lebih aman. Saat rambu itu jelas, saya bisa menikmati permainan dengan fokus, nyaman, dan tetap selaras dengan kehidupan sehari-hari.

